
KUTAI KARTANEGARA, JurnalNusantara.co – Ajang pemilihan Duta Budaya Kutai Kartanegara 2025 kini bukan hanya sekadar ajang bergengsi, tetapi juga menjadi sarana edukatif yang menjembatani tradisi dengan dunia digital anak muda.
Puncak kegiatan yang digelar di Taman Tanjong Tenggarong pada Sabtu malam (24/5/2025) menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan pendekatan yang lebih segar dan relevan bagi generasi kini.
Selama proses seleksi, para finalis tidak hanya diasah secara pengetahuan dan keterampilan adat, tetapi juga dilatih agar mampu menyampaikan nilai-nilai budaya melalui cara yang menarik dan mudah dicerna publik, khususnya lewat media sosial.
“Kami ingin peserta bukan hanya tahu budaya, tapi bisa menyampaikan dan menghidupkannya kembali dalam konteks zaman sekarang,” ucap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Thauhid Afrilian Noor.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini telah dirancang sebagai program pembinaan karakter berbasis budaya yang dapat bersaing dengan konten-konten modern di platform digital.
“Ketika mereka bisa mempopulerkan budaya lewat Instagram, TikTok, atau YouTube, maka nilai-nilai adat akan tetap eksis di tengah derasnya arus globalisasi,” jelas Thauhid dalam sesi wawancara usai grand final.
Menurutnya, peserta yang terpilih tidak sekadar menjadi ikon budaya, tetapi juga diharapkan menjadi edukator yang mampu menyampaikan pesan kearifan lokal secara kreatif.
“Duta budaya harus bisa menjadi jembatan antara tradisi dengan perkembangan teknologi. Mereka akan lebih didengar jika berbicara dengan bahasa generasinya,” tambahnya.
Dalam ajang ini, dua peserta unggulan dinobatkan sebagai Duta Budaya Kukar 2025, yakni Nazwa Kirana Firdaus dari Sanga Sanga dan Andi M. Adelia Aska Naraya dari Muara Badak. Keduanya dianggap mampu menunjukkan kombinasi antara pengetahuan budaya dan kemampuan komunikasi publik secara seimbang.
Selama masa karantina, para finalis tidak hanya menjalani pelatihan teori dan praktik, tetapi juga diajak berdiskusi langsung dengan pegiat budaya dan pelaku konten kreatif agar lebih siap beradaptasi dengan tantangan pelestarian budaya era digital.
Gelar lainnya yang diumumkan pada malam final turut mengangkat potensi dari berbagai kecamatan. Misalnya, kategori Penampilan Terbaik diraih Gresia Natasia Langi (Tenggarong) dan Alfarizi Bambang Subagia (Loa Kulu), sedangkan kategori Bakat dimenangkan oleh Norbertha Tresti (Tabang) dan Ananda Saputra Alfarizi (Tenggarong).
Publik juga turut berperan dalam proses penilaian melalui media sosial. Kategori Favorit diraih Sheila Aisyah Febriyasa dan Ridho Aliyya Ananda, keduanya dari Tenggarong, berkat dukungan tinggi dari warganet. Sementara itu, predikat Intelegensia disematkan kepada Vilent Likawati dan Reinhard Mahardiva Reisa.
Dengan berbagai bekal yang telah diberikan selama ajang berlangsung, para finalis diharapkan tidak berhenti pada seremoni semata, tetapi mampu melanjutkan misinya sebagai agen penyampai pesan budaya di masyarakat.
“Kalau bisa tampil dan punya follower, mereka punya tanggung jawab untuk menyebarkan hal baik, salah satunya tentang adat dan jati diri lokal,” ujar Thauhid menegaskan.
Ia juga menyebut bahwa keberhasilan peserta asal Kukar yang rutin menembus kompetisi tingkat provinsi adalah bukti bahwa pembinaan melalui ajang ini berjalan secara terstruktur dan konsisten.
“Budaya harus dihidupkan kembali lewat cara yang tidak membosankan, dan anak muda kita punya kapasitas itu,” tutupnya. (adv/der)





