
Kukar, JurnalNusantara.co — Upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Kecamatan Loa Janan terus digenjot, salah satunya melalui Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) Triwulan I yang digelar oleh UPTD Puskesmas Loa Janan pada Kamis (27/2/2025).
Kegiatan evaluatif ini difokuskan pada penilaian terhadap pelaksanaan berbagai program kesehatan sepanjang tiga bulan pertama tahun 2025. Rapat berlangsung di ruang pertemuan puskesmas dan dihadiri Kepala UPTD Puskesmas, Rusliansyah Efendi, tim medis, pegawai administrasi, serta perwakilan dari Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara.
RTM ini menjadi forum untuk membedah capaian, mengidentifikasi hambatan, serta menyusun strategi perbaikan guna mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih merata dan berkualitas bagi masyarakat di seluruh wilayah kecamatan.
“Kegiatan ini bukan sekadar rapat evaluasi rutin, tetapi juga menjadi momen reflektif untuk menyusun langkah-langkah yang lebih adaptif dan responsif terhadap tantangan pelayanan kesehatan di lapangan,” jelas Rusliansyah Efendi dalam pemaparannya.
Berbagai program prioritas yang dievaluasi meliputi layanan kesehatan dasar, imunisasi, penanggulangan penyakit, kesehatan ibu dan anak (KIA), serta intervensi gizi masyarakat. Secara umum, terdapat peningkatan kunjungan pasien dan partisipasi masyarakat terhadap layanan preventif, namun sejumlah kendala masih menjadi catatan penting.
Salah satu tantangan utama yang diungkap dalam rapat adalah masih terbatasnya akses masyarakat di wilayah terpencil ke fasilitas kesehatan dasar. Beberapa desa di kecamatan ini memerlukan perjalanan cukup jauh untuk menjangkau puskesmas atau pos pelayanan terpadu (posyandu).
“Masih ada daerah yang belum bisa dijangkau secara optimal karena keterbatasan transportasi dan medan geografis. Ini tentu menjadi hambatan bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan tepat waktu,” ujar salah satu tenaga medis yang turut hadir.
Persoalan lain yang disorot adalah minimnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama dalam upaya deteksi dini penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
“Pemeriksaan kesehatan masih dianggap tidak penting oleh sebagian warga. Mereka baru ke fasilitas kesehatan ketika gejala sudah parah. Ini yang perlu kita ubah melalui edukasi dan pendekatan yang lebih masif,” ungkap petugas gizi Puskesmas.
Selain itu, kekurangan tenaga medis serta keterbatasan sarana pendukung menjadi perhatian utama dalam pembahasan RTM. Beberapa unit layanan seperti laboratorium dan ruang tindakan disebut belum mampu melayani jumlah pasien yang terus meningkat.
Menanggapi tantangan tersebut, pihak Puskesmas menyusun sejumlah rencana strategis ke depan. Di antaranya adalah memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintahan desa dan kecamatan, untuk memperluas jangkauan layanan dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam program kesehatan.
Rusliansyah menyampaikan bahwa pihaknya juga tengah mengembangkan sistem layanan berbasis teknologi, termasuk aplikasi pencatatan data kesehatan dan sistem antrian digital untuk mempercepat pelayanan.
“Kami ingin memastikan bahwa kualitas layanan tidak hanya dirasakan oleh warga di pusat kecamatan, tapi juga oleh masyarakat di pinggiran. Teknologi menjadi salah satu solusi jangka panjang yang kami dorong,” tegasnya.
Rapat evaluasi ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut untuk triwulan berikutnya, yang mencakup target capaian layanan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dan penguatan program promosi kesehatan. (adv/der)





