Sawit Rakyat Angkat Ekonomi Keluarga Petani di Pedesaan Kukar

Kebun Sawit di Kukar.

Kukar, JurnalNusantara.co– Perkebunan kelapa sawit yang dikelola langsung oleh warga desa kini menjadi penopang ekonomi keluarga di berbagai wilayah pedalaman Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.

Kehadiran sawit rakyat terbukti mampu memberikan penghasilan yang stabil, sekaligus membuka peluang usaha baru di sektor pertanian berbasis komoditas unggulan daerah.

Sekretaris Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar, Muhammad Taufik Rahmani, mengatakan bahwa pertumbuhan perkebunan sawit rakyat terus menunjukkan tren positif, baik dari sisi luasan maupun keterlibatan masyarakat.

“Budidaya sawit rakyat di Kukar kini tidak hanya dijalankan secara tradisional, tapi mulai dikelola dengan lebih serius oleh keluarga petani,” ujarnya belum lama ini.

Menurutnya, keunggulan kelapa sawit sebagai tanaman tahunan dengan produktivitas tinggi dan perawatan yang relatif sederhana menjadi alasan banyak warga desa beralih ke sektor ini sebagai sumber penghidupan utama.

Dengan masa panen yang dimulai pada usia tanaman tiga hingga empat tahun, sawit memberikan hasil yang relatif cepat dibandingkan komoditas lain.

“Ini tentu sangat membantu keluarga petani dalam memenuhi kebutuhan ekonomi mereka secara rutin,” terang Taufik menjelaskan daya tarik sawit rakyat.

Data Dinas Perkebunan menunjukkan, Kecamatan Kembang Janggut dan Muara Badak menjadi dua wilayah dengan pengembangan sawit rakyat terbesar. Di Kembang Janggut, 2.107 kepala keluarga mengelola sekitar 7.197 hektare lahan sawit, sedangkan di Muara Badak tercatat 5.022 hektare digarap oleh 2.905 kepala keluarga.

“Besarnya angka keterlibatan keluarga menunjukkan bahwa sawit bukan lagi komoditas perusahaan besar saja, tapi sudah menjadi bagian penting dari ekonomi desa,” kata Taufik lagi.

Tingginya antusiasme petani dalam menanam sawit secara mandiri menunjukkan bahwa komoditas ini telah memberi dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan warga desa.

Namun demikian, pemerintah daerah tidak membiarkan petani berjalan sendiri. Disbun Kukar turut menyalurkan bantuan berupa bibit unggul, pelatihan teknis budidaya, dan pendampingan kelembagaan.

“Petani yang terorganisir dalam kelompok lebih mudah mendapat akses pelatihan dan pengembangan usaha,” jelas Taufik mengenai strategi pembinaan yang diterapkan Disbun.

Di luar petani rakyat, sektor perkebunan kelapa sawit di Kukar juga ditopang oleh perusahaan besar swasta yang mengelola lebih dari 226 ribu hektare areal tanam, dan membuka ribuan lapangan kerja bagi warga sekitar.

Namun, Disbun Kukar tetap menaruh perhatian utama pada penguatan sawit rakyat agar terjadi pemerataan ekonomi hingga ke tingkat desa.

“Sektor ini harus terus ditopang karena sawit rakyat bisa jadi pilar ekonomi desa yang mandiri,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap langkah pengembangan sawit. Hal ini agar keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.

“Keberlanjutan adalah arah kita ke depan. Tidak hanya mengejar produksi, tapi juga menjaga alam dan memberi manfaat jangka panjang,” ucap Taufik menutup.

Dengan peran petani yang makin kuat dan dukungan penuh dari pemerintah, Kukar menargetkan kelapa sawit rakyat dapat menjadi fondasi utama bagi ekonomi keluarga desa yang lebih sejahtera dan berdaya. (Adv/Der)

 

 

 

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER

BULAN INI